Gotong Royong Siapkan Buceng Boga Lancursari Dan Palawija Manca Warna Untuk Perayaan 199 Tahun Desa Sirapan

Gotong Royong Siapkan Buceng Boga Lancursari dan Palawija Manca Warna untuk Perayaan 199 Tahun Desa Sirapan

Suasana sibuk nan hangat menyelimuti pendopo desa sejak pagi hari. Menjelang puncak acara peringatan ulang tahun ke-199 Desa Sirapan, ibu-ibu warga berkumpul dengan semangat gotong royong yang tinggi. Mereka bersiap membuat persembahan istimewa yang akan dibawa ke punden, yaitu buceng boga lancursari dan palawija manca warna. Tradisi agung ini merupakan bentuk syukur atas limpahan rahmat serta hasil panen yang melimpah, sekaligus menjadi simbol kebersamaan masyarakat yang terus terjaga.

Pembuatan buceng boga lancursari menjadi pusat perhatian utama dalam persiapan ini. Buceng raksasa yang menjulang tinggi ini terbuat dari tumpukan nasi kuning yang padat dan dibentuk dengan ketelitian ekstra. Tampak para ibu dengan cekatan menyusun, membentuk, dan merapikan tumpeng tersebut, melapisinya dengan anyaman daun untuk menjaga kekuatan strukturnya. Setiap kepalan nasi yang disusun melambangkan doa dan harapan agar kesejahteraan serta ketenteraman desa terus meningkat seiring berjalannya waktu.

 

Di sudut lain pendopo, kelompok warga lainnya sibuk mempersiapkan palawija manca warna. Beralaskan tikar sederhana, mereka memilah dan membersihkan berbagai jenis sayuran segar hasil panen dari kebun. Beraneka ragam hasil bumi seperti kacang panjang, terong, tomat, sawi, dan sayur-mayur lainnya dirangkai sedemikian rupa hingga membentuk gunungan warna-warni yang indah dipandang. Proses merangkai palawija ini membutuhkan kesabaran ekstra agar setiap elemen tersusun kokoh, estetis, dan melambangkan kekayaan alam desa.

  

Kehangatan persaudaraan sangat terasa di sela-sela aktivitas yang padat ini. Sambil memotong sayur, merangkai janur, dan menyiapkan kotak makanan untuk keperluan acara, canda tawa terus mengiringi tangan-tangan terampil yang bekerja. Tidak ada sekat pembatas, semua saling bahu-membahu dan melengkapi tugas satu sama lain. Kekompakan ini adalah bukti nyata bahwa warisan budaya tidak hanya berbentuk benda atau ritual persembahan, tetapi juga semangat kekeluargaan yang masih mendarah daging.

Setelah melewati proses yang panjang, mahakarya simbol budaya desa tersebut akhirnya berdiri megah. Rasa lelah seketika sirna berganti dengan senyum kebanggaan saat ibu-ibu berfoto bersama di depan buceng yang telah dihiasi logo peringatan desa. Buceng boga lancursari dan palawija manca warna kini telah siap untuk diarak menuju punden. Momen kebersamaan ini menjadi saksi bahwa masyarakat selalu setia merawat tradisi peninggalan leluhur dan mensyukuri anugerah alam yang telah menghidupi mereka dari generasi ke generasi.