Puncak peringatan hari lahir ke-199 Desa Sirapan, Madiun, berlangsung dengan penuh kemeriahan melalui gelaran "Sirapan Culture Festival - Memetri Bumi". Di bawah terik matahari pagi yang cerah, jalanan utama desa disulap menjadi panggung kebudayaan yang panjang dan semarak. Ribuan pasang mata, baik dari kalangan warga setempat maupun masyarakat luas, tumpah ruah di pinggir jalan untuk menyaksikan kirab budaya tahunan ini. Acara ini bukan sekadar perayaan pertambahan usia desa, melainkan wujud nyata rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan berkah dan hasil bumi yang melimpah selama setahun terakhir.

Rombongan kirab diawali dengan pesona keanggunan budaya lokal yang memukau. Tampak di barisan depan, seorang gadis cilik berbalut kebaya merah dengan hiasan mahkota bunga di kepalanya melangkah anggun membawa nampan berisi persembahan tradisional. Kehadirannya dikawal oleh para perempuan berkebaya hitam elegan yang membentangkan spanduk utama festival. Tidak ketinggalan, para tokoh masyarakat dan aparatur desa turut turun langsung ke jalan, berjalan bersama diiringi tarian dan sapaan hangat kepada warga melalui pelantang suara, menambah keakraban antara pemimpin desa dan masyarakatnya.

Kekuatan dan persatuan warga Sirapan tergambar jelas dari beragamnya kelompok masyarakat yang ikut ambil bagian dalam pawai ini. Terlihat barisan dari Lembaga Adat Desa (LAD) dan perwakilan Karang Taruna tampil kompak mengenakan seragam biru motif garis dan lurik tradisional. Di sisi lain, para pemuda kebanggaan desa yang tergabung dalam perguruan pencak silat juga turut berpartisipasi dengan gagah berani memanggul gunungan palawija yang berat. Kolaborasi lintas generasi dan lintas organisasi ini membuktikan bahwa semangat pelestarian budaya di Desa Sirapan didukung penuh oleh seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali.

Daya tarik utama yang paling dinanti dalam kirab ini tentu saja adalah arak-arakan puluhan buceng dari masing-masing Rukun Tetangga (RT). Diiringi semangat "Guyup Rukun Ayem Tentrem", para pria dewasa dengan seragam kebanggaan wilayahnya masing-masing memanggul aneka buceng kreasi yang menjulang tinggi. Mulai dari maskot utama Buceng Boga Lancursari, buceng berisi aneka makanan ringan yang dihias kertas rumbai, hingga tumpukan hasil bumi yang diarak dengan penuh rasa bangga. Bendera merah putih dan lambang gunungan Kabupaten Madiun yang menghiasi buceng semakin menguatkan identitas kebangsaan di tengah kentalnya nuansa kedaerahan.


Kirab budaya Memetri Bumi ini ditutup dengan suasana suka cita dan pembagian berkah dari buceng-buceng yang telah diarak keliling desa. Perayaan hari lahir yang ke-199 ini berhasil mengukir memori indah sekaligus mempertebal ikatan persaudaraan antarwarga. Menjelang usianya yang genap dua abad di tahun depan, masyarakat Desa Sirapan berharap tradisi luhur ini dapat terus dijaga kelestariannya. Lebih dari sekadar pawai, festival ini adalah doa yang dilangitkan bersama agar desa ini selalu dikaruniai kemakmuran, dijauhkan dari marabahaya, dan warganya senantiasa hidup rukun berdampingan.