Lantunan Istighosah Warga Wujud Syukur Dan Harapan Di Tanah Leluhur

Lantunan Istighosah Warga Wujud Syukur dan Harapan di Tanah Leluhur

Suasana malam di desa perlahan berubah menjadi lautan ketenangan yang penuh dengan kekhusyukan. Angin malam yang berhembus pelan seolah turut menyertai langkah ratusan warga yang berbondong-bondong keluar rumah untuk menghadiri acara istighosah bersama. Kegiatan doa bersama ini merupakan tradisi turun-temurun yang selalu diselenggarakan tepat pada malam sebelum puncak acara di punden desa. Ini bukan sekadar formalitas, melainkan wujud penghormatan kepada para leluhur sekaligus permohonan kepada Sang Pencipta agar seluruh rangkaian acara esok hari berjalan dengan lancar, aman, dan membawa berkah bagi seluruh penduduk desa.

Seperti yang terlihat pada dokumentasi malam itu, antusiasme warga sangat luar biasa. Di bawah pendaran cahaya lampu penerangan jalan dan hiasan umbul-umbul yang berkibar, warga duduk bersila di atas gelaran tikar dan karpet sederhana yang membentang luas. Halaman dan jalanan desa disulap menjadi majelis zikir yang menyejukkan hati. Terlihat pembagian tempat duduk yang rapi, di mana jemaah laki-laki menempati sisi luar hingga memanjang ke jalan, sementara jemaah perempuan berkumpul dengan khidmat di area pelataran rumah dan pendopo kayu, menciptakan harmoni kebersamaan yang indah dipandang mata.

Kesederhanaan sekaligus kekayaan budaya lokal sangat kental terasa dari pakaian yang dikenakan oleh para warga. Para bapak dan pemuda desa tampak bersahaja mengenakan sarung, baju koko, kemeja batik, dan tak lupa peci hitam yang menjadi ciri khas identitas muslim Nusantara. Bahkan, beberapa tokoh masyarakat dan aparat desa juga turut membaur tanpa sekat, duduk sejajar beralaskan karpet merah, menunjukkan eratnya semangat persaudaraan dan gotong royong. Di sudut lain, beberapa warga tampak saling bercengkrama ringan di sela-sela waktu istirahat, ditemani tumpukan kotak makanan dan air minum yang telah disiapkan secara swadaya.

Lantunan zikir dan doa yang dipimpin oleh pemuka agama setempat menggema memecah keheningan malam. Para ibu dan remaja putri yang berbalut busana muslimah dan hijab beraneka warna tampak menundukkan kepala, larut dalam bait-bait selawat dan doa permohonan ampunan. Istighosah ini menjadi jembatan spiritual yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan, sebuah momen di mana warga mensyukuri hasil bumi, memohon keselamatan dari segala marabahaya (tolak bala), dan menjaga keselarasan hubungan antarmanusia, alam, dan Tuhan, sebelum mereka melakukan prosesi adat di punden keesokan harinya.

Rangkaian acara malam istighosah ini diakhiri dengan pembagian berkat dan ramah tamah yang semakin mempererat tali silaturahmi antarwarga. Melalui kegiatan seperti ini, generasi muda yang turut hadir dapat melihat langsung dan belajar tentang pentingnya menjaga peninggalan tradisi leluhur tanpa harus kehilangan esensi keimanan. Malam istighosah menjelang acara punden bukan sekadar seremonial desa biasa, melainkan sebuah denyut nadi kebersamaan yang memastikan bahwa ruh kearifan lokal desa ini akan terus hidup dan menyala hingga anak cucu nanti.