Pawai 20 Buceng Unik Wujud Kemakmuran Dan Kerukunan Warga Desa Sirapan

Pawai 20 Buceng Unik Wujud Kemakmuran dan Kerukunan Warga Desa Sirapan

Perayaan hari lahir ke-199 Desa Sirapan tahun ini terasa begitu istimewa dan penuh warna. Sorak-sorai kebahagiaan dan semangat gotong royong warga memuncak dengan hadirnya 20 buceng atau gunungan tematik yang dipamerkan di balai desa. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, deretan buceng kali ini menyedot perhatian luar biasa karena menghadirkan kreativitas tanpa batas dari masing-masing Rukun Tetangga (RT). Kemeriahan ini menjadi bukti nyata kekompakan seluruh lapisan masyarakat dalam merayakan jejak sejarah desa yang hampir menginjak usia dua abad.

  

Keunikan paling menonjol dari pameran buceng ini adalah inovasi bahan yang digunakan oleh warga. Jika tumpeng pada umumnya identik dengan olahan nasi kuning, kali ini warga menyusun kreasi modern berupa tumpukan jajanan ringan, biskuit, hingga kemasan mi instan yang menjulang rapi membentuk kerucut. Seperti yang terlihat pada karya perwakilan RT 04, RT 12, dan beberapa RT lainnya, aneka ragam makanan ringan dirangkai sedemikian rupa dengan hiasan rumbai kertas warna-warni, mahkota nanas, dan bendera merah putih. Karya kreatif ini tidak hanya memikat mata orang dewasa, tetapi juga menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak yang hadir.

   

Meskipun membebaskan kreasi modern, warga sama sekali tidak melupakan akar agraris desanya. Banyak RT yang membawa buceng palawija, merangkai hasil bumi segar yang sejalan dengan program ketahanan pangan desa. Terdapat gunungan yang tersusun apik dari untaian kacang panjang, sawi, terong, tomat, serta buah-buahan seperti pisang yang melambangkan kekayaan alam. Bahkan, salah satu yang paling mencuri perhatian adalah buceng dari RT 011 yang secara khusus memamerkan tumpukan ayam panggang utuh berjuluk "Panggang Sebelas". Setiap elemen hasil bumi dan olahan pangan ini merupakan representasi rasa syukur warga atas melimpahnya rezeki dari Sang Pencipta.

   

Terciptanya 20 buceng megah ini tidak lepas dari peluh dan dedikasi warga di berbagai wilayah, termasuk partisipasi aktif dari Dusun Bandung Brejo dan sekitarnya. Berhari-hari sebelum puncak acara Harlah, bapak-bapak menyiapkan kerangka bambu dan penyangga kayu (jodang), sementara ibu-ibu dengan teliti merangkai setiap komposisi buceng agar kokoh dan estetis saat dibawa. Proses kolaboratif ini menumbuhkan ikatan persaudaraan yang sangat kuat antarwarga. Meskipun setiap RT seolah bersaing menampilkan karya terbaiknya, tujuan utamanya tetaplah satu, yakni mempererat tali silaturahmi di bawah naungan keluarga besar desa.

  

Pada akhirnya, pameran 20 buceng unik ini bukan sekadar kompetisi keindahan visual, melainkan sebuah medium penyampai doa yang diwariskan secara turun-temurun. Desa Sirapan membuktikan bahwa kemajuan zaman tidak lantas mengikis tradisi luhur yang mereka miliki. Tradisi sedekah bumi yang dikemas dengan cara inovatif ini justru sukses menyalakan kecintaan generasi muda terhadap kebudayaan lokal. Melalui mahakarya buceng-buceng ini, seluruh warga melangitkan harapan agar desa ke depannya semakin makmur, sejahtera, dan selalu diliputi kedamaian.